MESIN DESTILASI T-70

Sosialisasi Bioethanol dengan Desperindag Temanggung. Pada Tanggal 28 Februari 2009

Jual Mesin Produksi Ethanol

February 24, 2009

Jual Mesin Ethanol

Introduction Bioethanol

February 19, 2009

INDUSTRI BIOETANOL TERINTEGRASI
DENGAN BAHAN BAKU TANAMAN SORGUM

Oleh: Administrator

A. Uraian Singkat
Bioetanol atau Biofuel dikenal sebagai Bahan Bakar Nabati yang ramah lingkungan, merupakan sumber energi terbarukan yang menjadi alternatif pengganti (substitusi) dari bahan bakar minyak yang akan habis ketersediaannya sebagaimana yang telah mulai dirasakan masyarakat dunia saat ini.

Tanaman Sorgum sebagai bahan baku produksi bioetanol (biofuel) telah direkomendasikan oleh Bank Dunia karena tidak mengganggu ketersediaan bahan pangan dunia dan tidak menimbulkan konflik kepentingan ekonomi sebagaimana yang dapat ditimbulkan jika bioetanol (biofuel) diproduksi dengan bahan baku singkong, kelapa sawit, dsb.

Indonesia telah mengeluarkan regulasi tata-niaga produksi dan pemanfaatan bioetanol (biofuel) melalui KepMen tertangal 26 September tahun 2008 yang memungkinkan dunia usaha mengembangkan produksi bioetanol (biofuel) untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Disamping itu, Kementererian ESDM dan TIMNAS BIOETANOL terus menggalakkan inovasi pengembangan produksi bioetanol di Indonesia.

B. Regulasi Pemerintah
a) Kewenangan setingkat Gubernur untuk izin operasional kapasitas produksi diatas 5.000 ton/tahun s/d 10.000 ton/tahun.
b) Kewenangan setingkat Bupati/Walikota, untuk izin operasional kapasitas produksi hingga 5.000 ton/tahun.
c) Setiap daerah Propinsi/Kabupaten-Kota wajib memanfaatkan penggunaan bioetanol hingga 15% dari kuota BBM didaerahnya.
d) Penggunaan untuk kendaraan otomotif maksimal 10% dari kuota nasional, dalam bentuk campuran.
Catt. Campuran 9 liter bensin premium + 1 liter bioetanol = PERTAMAX Plus
e) Indikasi harga disesuaikan dengan mekanisme pasar, atau dibawah BBM Non Subsidi
f) Peluang distribusi secara mandiri (independent).
g) Peluang eksport bioetanol

C. Nilai Tambah Tanaman Sorgum
a) Batang sebagai bahan baku pembuatan bioetanol/biofuel
b) Buah-biji sebagai bahan pembuat tepung dan bioetanol/biofuel
c) Ampas produksi bioetanol sebagai bahan pembuatan pakan ternak, pulp paper, dan sumber tenaga listrik.
d) Biaya penanaman dan perawatan tanaman sorgum relatif murah dan mudah.
e) Pembibitan varitas unggul tanaman sorgum relatif murah dan mudah

D. Pemanfaatan Produk Bioetanol
a) Kadar 60% s/d 70%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi)
b) Kadar 70% s/d 80%, sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah
c) Kadar 70% s/d 90%, sebagai bahan pendukung produksi makanan & minuman
d) Kadar 99,5% sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis bensin.

E. Peluang Industri Pendukung Produksi Bioetanol
1. Kompor Bioetanol,
a) Tekonologi produksi sederhana dan mudah dikembangkan (inovasi)
b) Tidak membutuhkan alat pendukung seperti tabung gas elpiji
c) Nilai efisiensi dan ekonomis sangat tinggi
a) satu liter bioetanol samadengan dua setengah liter minyak tanah
b) proses pemasakan tidak ber-jelaga (bercak hitam) pada wadah memasak
c) proses peng-api-an sangat aman
d) kualitas peng-api-an lebih baik dibandingkan gas
d) Peluang pasar yang besar dan lebar

2. Depo Distribusi Bioetanol
a) Penjualan Produk Campuran
b) Penjualan Eceran Rumah Tangga dan Industri

3. Bengkel Modifikasi
a) Spare-part modifikasi sederhana kendaraan roda dua, atau bengkel modifikasi
b) Spare-part modifikasi sederhana generator listrik, atau bengkel modifikasi

F. HAMBATAN DAN TANTANGAN
1. Kapasitas produksi tertinggi bioetanol yang di-izinkan pemerintah tidak mencukupi untuk memenuhi pasokan kebutuhan nasional dan mengurangi peluang pencapaian laba maksimum.
2. Pengembangan jaringan produksi dan dan pemasaran pada setiap wilayah kerja setingkat propinsi dan kabupaten dalam bentuk kemitraan terintegrasi (pendekatan konsorsium) adalah tantangan yang menjanjikan bagi pertumbuhan usaha dan investasi
3. Pergerakan pasar cenderung bersifat lokal – teritorial, sehingga kualitas dan stabilitas kultur korporasi dan kebijakan manajemen menjadi isu utama untuk dibakukan

G. PERENCANAAN BISNIS
Dijabarkan secara tersendiri

H. KESIMPULAN DAN PENUTUP
1. Pemanfaatan bahan baku tanaman sorgum adalah solusi ekonomis dalam membangun industri dan produksi bioetanol skala kecil dan menengah

Tentang NNE ENERGY

January 7, 2009

PT NNE Energy  didirikan pada tahun 2008, berkantor pusat Gedung STC Senayan Lantai 4 Kamar 1007 Jalan Asia Afrika – Pintu IX, Gelora Senayan, Jakarta Pusat 10270 berdasarkan surat BKPM No 65 / III / PMA / 2008. PT  NNE  Energy merupakan  salah satu  perusahaan yang  bergerak  dalam  bidang  industri  Biofuel  terpadu   (Integrated Biofuel Industry) . PT  NNE  Energy  lebih  memfokuskan  kegiatannya terhadap penyediaan bahan baku sampai pengelolaan bahan baku yang bisa dipasarkan dan digunakan oleh konsumen.

Dalam hal memperoleh bahan baku, PT NNE Energy telah membuka lahan Perkebunan di Propinsi Maluku Utara pada serta dikabupaten yang ada di Pulau Halmahera, seluas 20.000 Ha sejak tahun 2005, serta bibitan khusus menghasilkan benih jarak pagar seluas 15 Ha.

Selain Bidang perkebunan NNE Group pada saat ini telah mendapatkan surat IUP (Izin Usaha Penambangan) explorasi Mangan (Mn)  yang berlokasi di Ds. Darawati Kec. Cipatujah Kab Tasikmalaya Jawa Barat, dan Surat Izin Penambangan Daerah (SIPD) untuk Explorasi Copper (Co/Tembaga) serta Timah di kab Purwakarta.

selengkapnya >>

AREN BIOETHANOL

January 7, 2009

Bioetanol atau Biofuel dikenal sebagai Bahan Bakar Nabati yang ramah lingkungan, merupakan sumber energi terbarukan yang menjadi alternatif pengganti (substitusi) dari bahan bakar minyak yang akan habis ketersediaannya sebagaimana yang telah mulai dirasakan masyarakat dunia saat ini.

Indonesia telah mengeluarkan regulasi tata-niaga produksi dan pemanfaatan bioetanol (biofuel) melalui KepMen tertangal 26 September tahun 2008 yang memungkinkan dunia usaha mengembangkan produksi bioetanol (biofuel) untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Disamping itu, Kementererian ESDM dan TIMNAS BIOETANOL terus menggalakkan inovasi pengembangan produksi bioetanol di Indonesia.

Regulasi Pemerintah
a.    Kewenangan setingkat Gubernur untuk izin operasional kapasitas produksi diatas 5.000 ton/tahun s/d 10.000 ton/tahun.
b.    Kewenangan setingkat Bupati/Walikota, untuk izin operasional kapasitas produksi hingga 5.000 ton/tahun.
c.    Setiap daerah Propinsi/Kabupaten-Kota wajib memanfaatkan penggunaan bioetanol hingga 15% dari kuota BBM didaerahnya.
d.    Penggunaan untuk kendaraan otomotif maksimal 10% dari kuota nasional, dalam bentuk campuran.
Catt. Campuran  9 liter bensin premium + 1 liter bioetanol = PERTAMAX Plus
e.    Indikasi harga disesuaikan dengan mekanisme pasar, atau dibawah BBM Non Subsidi
f.    Peluang distribusi secara mandiri (independent).
Peluang eksport bioetanol

Pemanfaatan Produk Bioetanol
1.    Kadar 60% s/d 70%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi)
sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak jenis minyak tanah
2.    Kadar 70% s/d 80%, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi)
3.    Kadar 70% s/d 90%, sebagai bahan pendukung produksi makanan & minuman
4.    Kadar 99,5% sebagai substitusi  Bahan Bakar Minyak jenis bensin.

Peluang Industri Pendukung Produksi Bioetanol
1.    Kompor Bioetanol,
a.    Teknologi produksi sederhana dan mudah dikembangkan (inovasi)
b.    Tidak membutuhkan alat pendukung seperti tabung gas elpiji
c.    Nilai efisiensi dan ekonomis sangat tinggi
·    satu liter bioetanol samadengan dua setengah liter minyak tanah
·    proses pemasakan tidak ber-jelaga (bercak hitam) pada wadah memasak
·    proses peng-api-an sangat aman
·    kualitas peng-api-an lebih baik dibandingkan gas
d.    Peluang pasar yang besar dan lebar

2.    Depo Distribusi Bioetanol
a.    Penjualan Produk Campuran
b.    Penjualan Eceran Rumah Tangga dan Industri

3.    Bengkel Modifikasi
a.    Spare-part modifikasi sederhana kendaraan roda dua, atau bengkel modifikasi
b.    Spare-part modifikasi sederhana generator listrik, atau bengkel modifikasi
Hambatan dan Tantangan
1.    Kapasitas produksi tertinggi bioetanol yang di-izinkan pemerintah tidak mencukupi untuk memenuhi     pasokan kebutuhan nasional dan mengurangi peluang pencapaian laba maksimum.
2.    Pengembangan jaringan produksi dan pemasaran pada setiap wilayah kerja setingkat propinsi dan     kabupaten dalam bentuk kemitraan terintegrasi (pendekatan konsorsium) adalah tantangan yang     menjanjikan bagi pertumbuhan usaha dan investasi
3.    Pergerakan pasar cenderung bersifat lokal – teritorial, sehingga kualitas dan stabilitas  kultur     korporasi dan kebijakan manajemen menjadi isu utama untuk dibakukan.

Aren Bioethanol
60% pohon aren di dunia terdapat di Indonesia (Provinsi Sulawesi, Maluku, Papua, dan Sumatera)
Getah pohon aren mengandung air nira (saguer) yang dikumpulkan dari
Getah dipanen untuk menghasilkan guladan dapat juga difermentasikan mnjadi cuka dan arak
Getah yang telah difermentasikandidestilasi untuk dikembangkan menjadi sumber biofuel (ethanol) yang utama
Pohon aren yang (?) digunakan untuk produksi tepung sagu
Pohon aren mulai dapat disadap setelah berumur 5 tahun
Produktivitas pohon aren mencapai hingga 5 tahun
Pohon aren mampu menghasilkan 20 liter air nira per-hari  dengan potensi produksi 36.000 liter per     pohon
Harga air nira aren berkisar antara Rp. 150,- – 250,- / liter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.